Baru saja kita saksikan, lewat satu babak dimana Bapak Ir. Basuki
Tjahaya Purnama atau Ahok dan Drs. Djarot Syaiful Hidayat sampai berdarah-darah
dan menangis ala Bolywood untuk sekedar memperkenalkan sebuah tatanan baru
pendewasaan politik, sosial dan ekonomi pada masyarakat kota Jakarta yang jadi pusat pemerintahan
Negara ini. Banyak orang-orang pintar meradang. Beberapa lainnya bingung tak
habis pikir. Bagaimana bisa? Bukankah bukti nya sudah cukup banyak?
Di sisi lain secara massive, ada gelombang kebencian yang di
tujukan pada kemajuan dan pola berfikir yang baru di bawa khususnya oleh
Gubernur Pengganti Bapak Joko Widodo ini. Bahkan sedemikian massive nya sampai
tak kurang dari 7 juta orang katanya bisa berkumpul dari seluruh Indonesia di
satu tempat sebesar wilayah MONAS
hanya dengan tujuan menuntut Sang Gubernur di tahan , di penjara, atau bahkan kalau perlu tanpa di
adili.
Lucu sih kalau di pikir-pikir lagi.
Tapi sebenarnya, kalau bukan Ahok, yang memang dasarnya terlahir
dengan darah Tionghoa(China), kalau saja dia putra pribumi asli , yang di maksud pribumi disini adalah mereka yang nenek moyangnya memang
sudah ada di Indonesia sejak zaman Patih Gajah Mada (;yang bukan, jangan merasa!!!), Sang Gubernur tak akan menangis
melihat reaksi masyarakat se-massive ini. Kalau saja dia orang Batak misalnya,
mungkin dia hanya akan tertawa terpingkal pingkal atau sekalian mengajak tempur
antar suku atau antar pulau para pendemonya. (;Ngeri kali!)
Bagaimana mau di seriusin coba? Sekedar flashback saja nih, yang
katanya sedang di perjuangkan kemarin kan adalah aqidah,,keyakinan,,dan agama?
Tapi kok ini di lakukan justru dengan melanggar dan menabrak norma-norma aqidah
itu sendiri? Katanya Ahok menghina Ulama
tapi yang sedang berdemo pun melakukan hal yang sama pula seraya tuntutan
mereka bergulir. Bahkan orang se-kaliber Bapak Prof Dr KH Said Agil Siradj pun kena hina oleh De Massive Army ini.. Beliau yang adalah lulusan S3 University of
Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam bisa-bisanya di dakwa mentah ke-islamannya. Yang lebih
telak lagi, bahkan Sesepuh se-kelas Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif yang pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace
(WCRP) dan bahkan gelar doktornya saja dengan judul disertasi, “Islam as
the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the
Constituent Assembly Debates in Indonesia”, bisa di anggap lebih mencintai
uang dan keduniawian dari pada agama.
Pertanyaan
yang timbul, karena apa masyarakat kita berbuat seperti itu? Apakah masyarakat
Indonesia memang mayoritas kasar dan
jauh dari logika? Tentu saja bukan!!!
Jawabannya
adalah karena sebenarnya, memang begitulah karakter atau budaya sifat
masyarakat bangsa ini. Hehehe…. Itu yang membuat orang-orang yang di anggap
pendatang atau yang di tubuhnya mengalir darah pendatang, atau yang latar
belakang sosialnya belajar dari kultur budaya pendatang, tak akan mudah
menundukkan garangnya suara masyarakat di ibu kota ini.
Maksudnya?
Begini…. Masyarakat
Indonesia memang sudah di kenal labil sejak zaman penjajahan dulu, kalau tak
bisa di katakan sejak zaman purbakala. Dan ke – labilan ini secara tidak
sengaja terus di turunkan dari generasi ke generasi. Karena sifatnya yang labil
ini, mayoritas anggota masyarakat bangsa ini, sudah terbiasa jadi follower atau
pengikut dan bukan leader atau trend setter.
Ah yang
benar????
Mau bukti
sederhana? Coba ingat, kalau anda keliling-keliling cari kuliner yang enak
tanpa rekomendasi siapapun. Hal pertama apa yang biasanya anda perhatikan? Sesuatu
yang umumnya membuat anda berhenti dan mencoba makan di sebuah resto adalah
karena melihat tempatnya ramai dengan pengunjung. Atau sudah ada yang duluan di
sana. Masuk akal sih!..Tapi yang lucu, tanpa harus mencoba/ mencicipi, kadang
kala ada orang yang kemudian
mem-promosikan tempat yang dia lihat ramai dengan pengunjung tersebut pada
orang lain lagi. Ajaib kan? Itu baru satu bukti.
Ada lagi yang lebih lucu. Berita-berita
belakangan terutama mengenai demo di masa-masa sebelum berlangsungnya kampanye
seringkali punya anekdot-anekdot khusus dan unik mengenai hal ini. Ada yang
ikut di barisan demo anti Ahok, telak telak ketika di wawancarai malah dengan
lantang dan bersemangat bilang,”wah saya nggak begitu
ngerti sih demo nya tentang apa Pak!”. Ajaib nggak? Nggak sih….Cuma Super
Ajaib! Hahahaha……..
Atau ada lagi
bukti yang lebih serius secara kultur budaya.
Mari kita
lihat secara acak/ random. Suku Batak misalnya di daerah Sumatera mengenal satu pepatah baik
yang berbunyi,” Eme na masa di gagat
ursa, i ma na masa ba i ma na ta ula!” (;Padi yang sudah matang dan menguning,
itu yang di makan oleh rusa, apa yang
umum,sebaiknya itu sajalah yang kita ikuti) Sebenarnya pepatah ini secara
turun temurun di teruskan dari generasi ke generasi dengan tujuan agar secara
kejiwaaan, orang yang mempraktekkannya dapat menjadi orang yang selalu mencari
perdamaian dan ketenteraman, menyesuaikan dan beradaptasi pada kultur budaya di
manapun dia tinggal. Tapi pada kenyataannya pepatah ini justru di jadikan dasar
untuk tidak perlu mencari tahu atau memeriksa ulang sebuah berita yang di
dengar. Kalau umum sudah percaya, buat apa susah susah memikirkan lagi? Ini
juga lucu kan?
Nah, sedikit
bergerak ke timur ada suku Jawa dengan sifat sifat dan budi pekerti nya yang terkenal
halus. Di sini kita akan sering mendengar pepatah atau wejangan seperti
contohnya, “Dumadining
Dzat Kang Tanpa Winangenan” yang berarti ,” Menerima hidup apa adanya”. Tentu
saja wejangan ini sejati nya bermaksud agar setiap keturunan yang mendengar ini
menjadi pribadi yang kalem dan tidak gampang putus asa. Tapi pada kenyataannya,
pendengar justru biasa mengartikan ini sebagai sikap “nrimo” atau “pasrah”
pada nasib dan pada waktu di implementasikan pada kehidupan sosial,,ya jadi berarti:
ikut saja apa yang sedang musim di
sekitar kita.
Labil nggak? Tentu saja! Tetapi
ini adalah fakta sosial yang apabila di telaah lebih dalam secara empiris, tak
bisa terbantahkan dan terlepas dari kultur budaya dan karakter masyarakat
Indonesia pada umumnya.
Inilah yang di awal disebutkan
tak akan mungkin dengan gampang di mengerti oleh seorang Ahok. Tetapi
sebenarnya, di sampingnya ada orang yang orang-tua dan nenek-moyangnya sudah
ada di Indonesia sejak zaman Patih Gajah Mada. Maksudnya pribumi asli..Hehehe.
Ya Pak Djarot adalah seorang
pribumi asli. Sebagai wakil, dialah yang seharusnya menerjemahkan karakter
masyarakat kita pada Ir. Basuki Tjahaya Purnama supaya tidak menangis ala
Bolywood lagi di sidang-sidang selanjutnya. Atau supaya dia lebih bisa menjaga
dan mengkombinasikan kepintarannya dengan tata karma ke-labilan masyarakat kita
yang sudah turun temurun ini. Kalau saja mereka berkolaborasi dengan dasar
pengetahuan karakter ini, secara phsikologi tak akan ada yang bisa menghadang
mereka berdua lagi di putaran kedua PILKADA DKI yang akan datang.Karena dari sisi kemampuan dan motivasi, mereka memang sudah teruji mampu dan mau mengupayakan kesejahteraan dan keadilan sosial. Program-program yang mereka berdua usung jelas dapat di mengerti dan sangat realistis serta faktual.
Semoga…..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar