Jumat, 17 Februari 2017

INDONESIA-Negara Dengan Rakyat Paling Labil Se-Dunia








  
 Baru saja kita saksikan, lewat satu babak dimana Bapak Ir. Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok dan Drs. Djarot Syaiful Hidayat sampai berdarah-darah dan menangis ala Bolywood untuk sekedar memperkenalkan sebuah tatanan baru pendewasaan politik, sosial dan ekonomi pada masyarakat  kota Jakarta yang jadi pusat pemerintahan Negara ini. Banyak orang-orang pintar meradang. Beberapa lainnya bingung tak habis pikir. Bagaimana bisa? Bukankah bukti nya sudah cukup banyak?

Di sisi lain secara massive, ada gelombang kebencian yang di tujukan pada kemajuan dan pola berfikir yang baru di bawa khususnya oleh Gubernur Pengganti Bapak Joko Widodo ini. Bahkan sedemikian massive nya sampai tak kurang dari 7 juta orang katanya bisa berkumpul dari seluruh Indonesia di satu tempat sebesar wilayah MONAS hanya dengan tujuan menuntut Sang Gubernur di tahan ,  di penjara, atau bahkan kalau perlu tanpa di adili.


Lucu sih kalau di pikir-pikir lagi.


Tapi sebenarnya, kalau bukan Ahok, yang memang dasarnya terlahir dengan darah Tionghoa(China), kalau saja dia putra pribumi asli , yang di maksud pribumi disini  adalah mereka yang nenek moyangnya memang sudah ada di Indonesia sejak zaman Patih Gajah Mada (;yang bukan, jangan merasa!!!), Sang Gubernur tak akan menangis melihat reaksi masyarakat se-massive ini. Kalau saja dia orang Batak misalnya, mungkin dia hanya akan tertawa terpingkal pingkal atau sekalian mengajak tempur antar suku atau antar pulau para pendemonya. (;Ngeri kali!)


Bagaimana mau di seriusin coba? Sekedar flashback saja nih, yang katanya sedang di perjuangkan kemarin kan adalah aqidah,,keyakinan,,dan agama? Tapi kok ini di lakukan justru dengan melanggar dan menabrak norma-norma aqidah itu sendiri?  Katanya Ahok menghina Ulama tapi yang sedang berdemo pun melakukan hal yang sama pula seraya tuntutan mereka bergulir. Bahkan orang se-kaliber Bapak Prof Dr KH Said Agil Siradj pun kena hina oleh De Massive Army ini.. Beliau yang adalah lulusan S3 University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah / Filsafat Islam bisa-bisanya  di dakwa mentah ke-islamannya. Yang lebih telak lagi, bahkan Sesepuh se-kelas Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif  yang pernah menjabat sebagai Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan bahkan gelar doktornya saja dengan judul disertasi, “Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia”, bisa di anggap lebih mencintai uang dan keduniawian dari pada agama.






Pertanyaan yang timbul, karena apa masyarakat kita berbuat seperti itu? Apakah masyarakat Indonesia memang  mayoritas kasar dan jauh dari logika? Tentu saja bukan!!!

Jawabannya adalah karena sebenarnya, memang begitulah karakter atau budaya sifat masyarakat bangsa ini. Hehehe…. Itu yang membuat orang-orang yang di anggap pendatang atau yang di tubuhnya mengalir darah pendatang, atau yang latar belakang sosialnya belajar dari kultur budaya pendatang, tak akan mudah menundukkan garangnya suara masyarakat di ibu kota ini.



Maksudnya?



Begini…. Masyarakat Indonesia memang sudah di kenal labil sejak zaman penjajahan dulu, kalau tak bisa di katakan sejak zaman purbakala. Dan ke – labilan ini secara tidak sengaja terus di turunkan dari generasi ke generasi. Karena sifatnya yang labil ini, mayoritas anggota masyarakat bangsa ini, sudah terbiasa jadi follower atau pengikut dan bukan leader atau trend setter.


Ah yang benar????


Mau bukti sederhana? Coba ingat, kalau anda keliling-keliling cari kuliner yang enak tanpa rekomendasi siapapun. Hal pertama apa yang biasanya anda perhatikan? Sesuatu yang umumnya membuat anda berhenti dan mencoba makan di sebuah resto adalah karena melihat tempatnya ramai dengan pengunjung. Atau sudah ada yang duluan di sana. Masuk akal sih!..Tapi yang lucu, tanpa harus mencoba/ mencicipi, kadang kala ada  orang yang kemudian mem-promosikan tempat yang dia lihat ramai dengan pengunjung tersebut pada orang lain lagi. Ajaib kan? Itu baru satu bukti. 

Ada lagi yang lebih lucu. Berita-berita belakangan terutama mengenai demo di masa-masa sebelum berlangsungnya kampanye seringkali punya anekdot-anekdot khusus dan unik mengenai hal ini. Ada yang ikut di barisan demo anti Ahok, telak telak ketika di wawancarai malah dengan lantang dan bersemangat bilang,”wah saya nggak begitu ngerti sih demo nya tentang apa Pak!”. Ajaib nggak? Nggak sih….Cuma Super Ajaib! Hahahaha…….. 


Atau ada lagi bukti yang lebih serius secara kultur budaya. 


Mari kita lihat secara acak/ random. Suku Batak misalnya  di daerah Sumatera mengenal satu pepatah baik yang berbunyi,” Eme na masa di gagat ursa, i ma na masa ba i ma na ta ula!” (;Padi yang sudah matang dan menguning, itu yang  di makan oleh rusa, apa yang umum,sebaiknya itu sajalah yang kita ikuti) Sebenarnya pepatah ini secara turun temurun di teruskan dari generasi ke generasi dengan tujuan agar secara kejiwaaan, orang yang mempraktekkannya dapat menjadi orang yang selalu mencari perdamaian dan ketenteraman, menyesuaikan dan beradaptasi pada kultur budaya di manapun dia tinggal. Tapi pada kenyataannya pepatah ini justru di jadikan dasar untuk tidak perlu mencari tahu atau memeriksa ulang sebuah berita yang di dengar. Kalau umum sudah percaya, buat apa susah susah memikirkan lagi? Ini juga lucu kan?


Nah, sedikit bergerak ke timur ada suku Jawa dengan sifat sifat dan budi pekerti nya yang terkenal halus. Di sini kita akan sering mendengar pepatah atau wejangan seperti contohnya, “Dumadining Dzat Kang Tanpa Winangenan” yang berarti ,” Menerima hidup apa adanya”. Tentu saja wejangan ini sejati nya bermaksud agar setiap keturunan yang mendengar ini menjadi pribadi yang kalem dan tidak gampang putus asa. Tapi pada kenyataannya, pendengar justru biasa mengartikan ini sebagai sikap “nrimo” atau “pasrah” pada nasib dan pada waktu di implementasikan pada kehidupan sosial,,ya jadi berarti: ikut saja apa yang sedang musim di sekitar kita


Labil nggak? Tentu saja! Tetapi ini adalah fakta sosial yang apabila di telaah lebih dalam secara empiris, tak bisa terbantahkan dan terlepas dari kultur budaya dan karakter masyarakat Indonesia pada umumnya.


Inilah yang di awal disebutkan tak akan mungkin dengan gampang di mengerti oleh seorang Ahok. Tetapi sebenarnya, di sampingnya ada orang yang orang-tua dan nenek-moyangnya sudah ada di Indonesia sejak zaman Patih Gajah Mada. Maksudnya pribumi asli..Hehehe.

Ya Pak Djarot adalah seorang pribumi asli. Sebagai wakil, dialah yang seharusnya menerjemahkan karakter masyarakat kita pada Ir. Basuki Tjahaya Purnama supaya tidak menangis ala Bolywood lagi di sidang-sidang selanjutnya. Atau supaya dia lebih bisa menjaga dan mengkombinasikan kepintarannya dengan tata karma ke-labilan masyarakat kita yang sudah turun temurun ini. Kalau saja mereka berkolaborasi dengan dasar pengetahuan karakter ini, secara phsikologi tak akan ada yang bisa menghadang mereka berdua lagi di putaran kedua PILKADA DKI yang akan datang.Karena dari sisi kemampuan dan motivasi, mereka memang sudah teruji mampu dan mau mengupayakan kesejahteraan dan keadilan sosial. Program-program yang mereka berdua usung jelas dapat di mengerti dan sangat realistis serta faktual.





Semoga…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar